Rabu, 10 Juni 2026
Menu Utama
Call Center
Alamat
Jl. Soekarno - Hatta No.1, Mibo, Kec. Banda Raya, Kota Banda Aceh, Aceh 23231
Call Center

Cara Berjalan Bisa Menjadi Deteksi Dini Demensia

Cara Berjalan Bisa Menjadi Deteksi Dini Demensia
Cara Berjalan Bisa Menjadi Deteksi Dini Demensia
Tersalin
04/02/2026 / Artikel Kesehatan

Demensia merupakan sindrom yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, seperti daya ingat, kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini umumnya terjadi pada usia lanjut, namun proses perubahan pada otak dapat dimulai bertahun-tahun sebelum gejala yang jelas muncul.

Menariknya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perubahan cara berjalan atau pola berjalan (gait) seseorang dapat menjadi salah satu tanda awal yang membantu mendeteksi risiko demensia sejak dini. Oleh karena itu, memperhatikan perubahan cara berjalan pada lansia dapat menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan penanganan lebih awal.

Hubungan antara Otak dan Cara Berjalan

Berjalan bukanlah aktivitas yang hanya melibatkan kaki. Saat seseorang berjalan, otak bekerja mengatur keseimbangan, koordinasi gerakan, kecepatan langkah, orientasi ruang, hingga kemampuan memperhatikan lingkungan sekitar.

Ketika terjadi gangguan pada area otak yang berperan dalam fungsi kognitif dan motorik, perubahan pola berjalan dapat muncul sebelum gangguan daya ingat terlihat secara nyata.

Para ahli menyebut kondisi ini sebagai motoric cognitive risk syndrome (MCR), yaitu kombinasi antara keluhan gangguan kognitif ringan dan kecepatan berjalan yang melambat tanpa adanya gangguan fisik yang jelas.

Tanda-Tanda Perubahan Cara Berjalan yang Perlu Diwaspadai

Beberapa perubahan pola berjalan yang dapat menjadi tanda awal gangguan fungsi otak antara lain:

1. Berjalan Lebih Lambat dari Biasanya

Lansia yang mengalami penurunan fungsi kognitif sering menunjukkan penurunan kecepatan berjalan secara bertahap. Jika seseorang yang sebelumnya aktif mulai berjalan jauh lebih lambat tanpa penyebab fisik yang jelas, kondisi ini perlu mendapat perhatian.

2. Langkah Menjadi Pendek dan Tidak Stabil

Perubahan panjang langkah, kesulitan menjaga ritme berjalan, atau langkah yang tampak menyeret dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem saraf.

3. Mudah Kehilangan Keseimbangan

Sering tersandung, hampir terjatuh, atau merasa goyah saat berjalan dapat menunjukkan adanya gangguan koordinasi antara otak dan tubuh.

4. Kesulitan Berjalan Sambil Berbicara

Seseorang yang mengalami penurunan fungsi kognitif mungkin mengalami kesulitan melakukan dua tugas sekaligus, misalnya berjalan sambil berbicara atau berjalan sambil memikirkan sesuatu. Kondisi ini dikenal sebagai dual-task walking impairment.

5. Sering Bingung Menentukan Arah

Kesulitan mengenali lingkungan sekitar atau menentukan arah saat berjalan di tempat yang sudah familiar juga dapat menjadi tanda awal gangguan fungsi otak.

Baca Juga :  Ayo Bersama Jadikan Indonesia Kembali Bebas Polio

Mengapa Deteksi Dini Penting?

Demensia belum dapat disembuhkan sepenuhnya, namun deteksi dini memberikan peluang lebih besar untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mempertahankan kualitas hidup penderita.

Dengan mengenali gejala awal, tenaga kesehatan dapat melakukan evaluasi lebih lanjut melalui pemeriksaan kognitif, pemeriksaan fisik, serta penilaian faktor risiko lainnya.

Faktor Risiko Demensia

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia antara lain:

  • Usia lanjut.
  • Hipertensi.
  • Diabetes melitus.
  • Kolesterol tinggi.
  • Penyakit jantung dan stroke.
  • Kurang aktivitas fisik.
  • Merokok.
  • Obesitas.
  • Kurang interaksi sosial.
  • Gangguan pendengaran yang tidak ditangani.

Cara Menjaga Kesehatan Otak

Untuk membantu menurunkan risiko demensia, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

Rutin Beraktivitas Fisik

Berjalan kaki, bersepeda, senam lansia, dan aktivitas aerobik ringan dapat membantu menjaga aliran darah ke otak.

Menjaga Pola Makan Sehat

Perbanyak konsumsi buah, sayuran, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian serta batasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.

Melatih Kemampuan Otak

Membaca, bermain teka-teki, belajar keterampilan baru, dan aktif bersosialisasi dapat membantu menjaga fungsi kognitif.

Mengontrol Penyakit Kronis

Tekanan darah, gula darah, dan kolesterol perlu dikendalikan untuk mengurangi risiko kerusakan pembuluh darah otak.

Tidur yang Cukup

Kualitas tidur yang baik berperan penting dalam menjaga kesehatan otak dan proses memori.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila terdapat kondisi seperti:

  • Penurunan daya ingat yang semakin sering.
  • Perubahan cara berjalan yang nyata.
  • Sering jatuh tanpa sebab yang jelas.
  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Mudah tersesat di lingkungan yang dikenal.
  • Perubahan perilaku atau suasana hati yang mencolok.

Pemeriksaan lebih dini dapat membantu menentukan penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang tepat.

Cara berjalan ternyata tidak hanya mencerminkan kondisi fisik seseorang, tetapi juga dapat memberikan petunjuk mengenai kesehatan otak. Perubahan kecepatan berjalan, keseimbangan, maupun koordinasi gerak dapat menjadi tanda awal risiko demensia yang perlu diwaspadai.

Dengan mengenali gejala sejak dini dan menerapkan pola hidup sehat, risiko penurunan fungsi kognitif dapat diminimalkan sehingga kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut.

0 kementar

Jawab