

Begitu banyak cara untung berolahraga, dari yoga, berenang, angkat beban, bersepeda, sampai joging. Setiap jenis olahraga itu memiliki manfaat masing-masing. Semua orang tentu ingin mendapatkan manfaat tersebut. Para ahli kesehatan pun merekomendasikan olahraga teratur guna menjaga tubuh tetap sehat. Tapi hati-hati, olahraga berlebihan justru membahayakan kesehatan, termasuk jantung.
Olahraga ibarat es krim. Bila dikonsumsi secukupnya, es krim terasa nikmat dan beberapa bahannya bermanfaat untuk tubuh. Namun jika kebanyakan, es krim justru berbahaya terutama karena adanya kandungan gula di dalamnya. Olahraga pun begitu. Bila ingin memastikan beroleh manfaat olahraga, harus tahu batasnya. Sebab, dalam banyak kasus, olahraga yang mulanya adalah kebiasaan baik perlahan bisa menjadi obsesi dan/atau perilaku berbahaya.
Sejumlah penelitian menemukan dampak olahraga berlebihan terhadap kesehatan. Terutama bagi jantung. Banyak insiden terkait dengan penyakit jantung yang melibatkan atlet atau orang yang sedang berolahraga yang terjadi. Beberapa di antaranya bahkan berakibat fatal. Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana mungkin atlet bisa terserang penyakit jantung justru ketika berolahraga?
Salah satu dugaan yang muncul adalah mereka melakukan olahraga secara berlebihan. Tapi bisa jadi timbul pertanyaan baru: bagaimana cara kita mengetahui olahraga berlebihan? Apa batas-batasnya? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu karena respons tubuh setiap individu terhadap olahraga berlainan.
Bagi kebanyakan orang, aktivitas fisik sedang selama 30 menit per hari aktivitas fisik sudah cukup untuk kesehatan fisik yang optimal. Namun itu tidak berarti olahraga lebih dari 30 menit setiap hari berbahaya dalam setiap situasi. Untuk menentukan apakah olahraga itu berlebihan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
Bila jawaban untuk beberapa atau malah semua pertanyaan itu adalah “iya”, kemungkinan besar orang olahraga yang dilakukan individu tersebut berlebihan. Meski demikian, hanya ahli profesional terlatih yang dapat mendiagnosis kondisi individu tersebut secara pasti.
Menurut sejumlah riset, olahraga latihan ketahanan fisik dapat membentuk ulang jantung. Saat melakukan latihan ini, jantung akan meregang dan menjadi lebih besar serta kuat agar dapat memompa lebih banyak darah. Sebab, jantung merupakan organ yang terdiri atas otot. Sama halnya dengan saat kita berlatih angkat barbel yang bisa membuat otot bisep tumbuh besar dan kuat. Jantung atlet olahraga ketahanan fisik umumnya lebih besar dua kali lipat jantung orang non-atlet.
Ukuran jantung yang lebih besar ini pada dasarnya baik karena artinya jantung bisa memompa darah lebih efisien. Tapi, dalam beberapa kasus, diduga ada kaitan antara olahraga dan terjadinya pembengkakan jantung (kardiomegali) atau jaringan parut pada jantung (fibrosis). Selain itu, ada peningkatan risiko atrial fibrilasi akibat olahraga ketahanan fisik tingkat tinggi. Misalnya maraton, bersepeda lintas alam, dan olahraga ketahanan lain yang berlangsung berjam-jam.
Mendorong tubuh ke kemampuan maksimal setiap hari bisa membuat jantung mengalami tekanan sehingga risiko atrial fibrilasi meningkat. Gangguan irama detak jantung yang tak beraturan ini bisa berujung pada gagal jantung atau stroke.
Ada setidaknya tiga jenis tanda utama yang mengindikasikan olahraga berlebihan, yaitu fisik, mental, dan emosional. Berikut ini di antaranya:
Mengingat olahraga berlebihan justru tidak baik untuk kesehatan, cobalah melakukan gerak badan secara aman. Cara yang utama adalah memperhatikan tubuh agar tahu kapan waktunya menyudahi olahraga dan beristirahat cukup. Berikut ini tips berolahraga secara aman:
Orang awam mungkin sulit untuk menyadari olahraga berlebihan yang ia lakukan. Karena itu, lebih baik berkonsultasi dengan dokter bila curiga telah melakukan olahraga secara berlebihan. Temui dokter terutama jika Anda: